Senin, 17 Juni 2013

KONDISI LINGKUNGAN POLITIK MENJELANG PEMILU 2014

Media Massa sering menyebut dan memberitakan bahwa tahun ini (2013) merupakan tahun politik. Katanya dunia perpolitikan akan semakin memanas untuk persiapan menuju tahun Pemilu 2014. Sehingga salah satu konsekuensinya adalah masyarakat akan semakin banyak disuguhi berita tentang dunia politik. Padahal sudah jadi rahasia umum jikalau kondisi politik Indonesia dalam konteks demokrasi secara umum saat ini adalah masih terus ‘sedang belajar’. Ada banyak hal yang barangkali tentu akan membuat jenuh dan bosan sebab kondisi carut marut dunia politik serta bidang hukum yang dinilai masih banyak mengecewakan. Sebut saja dalam salah satu aspek penegakan hukum yakni masalah banyaknya kasus korupsi.
Lalu haruskah masyarakat umum yang sudah punya hak memilih dan hak dipilih akan semakin apatis dan skeptis terhadap kondisi semacam itu? Atau justru sebaliknya, dengan semakin berkembangnya dinamika politik menuju tahun pemilu maka masyarakat dituntut untuk meningkatkan tanggungjawab moral demi mengawasi perkembangan politik di tanah air kita ini?
Mungkin setiap orang akan punya jawaban masing-masing sesuai dengan alasan yang dipunyainya. Tapi yang jelas aspek politik memang sejatinya takkan bisa lepas dari konstitusi sebuah negara. Selamat menikmati makin banyaknya berita tentang politik dan pemilu. Sebab menurut saya, akan semakin banyak berita politik yang bakalan disertai bumbu isu dan gosip. Itu terkait dengan manuver dan intrik politik yang sudah lazim terjadi menjelang tahun pemilihan. Dan hal semacam itu cenderung justru akan membuat masyarakat awam semakin bingung, bingung menentukan pilihan. Bahkan termasuk pilihan untuk tidak memilih. Dan jikalau makin banyak kasus yang menyeret para politikus, berhati-hatilah karna bisa menjadi makin muak setelah menonton berita politik.
Terlepas dari apapun pilihannya, marilah tetap peduli dan berharap munculnya figur tokoh pemimpin yang makin baik. Rasanya ‘kaderisasi’ pemimpin dan elit politik di Indonesia masih sangat perlu perbaikan. Dan saya berharap banyak pada partai yang belum terkontaminasi dalam percaturan politik dan birokrasi di negeri kita ini, yaitu partai NasDem, untuk dalam membawa perubahan baru dan merestorasi republik ini untuk kembali pada tatanan yang semestinya dilakukan oleh bangsa ini sesuai falsafah hidup bangsa yang sudah disepakati bersama sejak Indonesia merdeka.
Kembali pada kondisi perpolitikan nasional, tahun depan, diprediksi makin gaduh dan tak menentu. Pasalnya, pada tahun 2013 dinilai sebagai tahun politik karena parpol dan para elite akan lebih menekankan pada persiapan menjelang pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden tahun 2014. Verifikasi parpol peserta pemilu juga akan menimbulkan protes dan tensi politik tinggi.
Belum lagi peristiwa politik di daerah yang menyita energi seperti pemilukada di sejumlah provinsi yang padat penduduk seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Nusa Tenggara Barat, yang kemungkinan akan menimbulkan gesekan di masyarakat.
Politik akan menjadi panglima. Penilaian tersebut dikemukakan pakar politik LIPI Siti Zuhroh, pengamat politik UGM Ari Dwipayana, dan pengamat politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf, serta pengamat politik dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Novriantoni Kahar yang dimintai tanggapannya secara terpisah terkait perkiraan kondisi politik setahun menjelang Pemilu 2014.
Siti menjelaskan tahun 2012 yang sebelumnya dinilai sebagai momentum terbaik atau “tahun emas” bagi pelaksanaan kerja-kerja pemerintahan, ternyata berjalan tak sesuai harapan dengan tetap tak fokusnya pemerintahan layaknya sebuah tahun politik. Ketika tahun kerja berlangsung seperti tahun politik, situasi lebih buruk diprediksi akan terjadi pada tahun 2013 yang mengakibatkan rakyat makin tak terurus akibat situasi dan kondisi yang tak menentu. Siti Zuhroh juga mengatakan koordinasi dan soliditas yang kurang kokoh di kabinet pada 2012 ini akan makin menjadi pada 2013 mendatang. Alasannya, meski sudah ada peringatan berkali-kali dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tentang menteri harus tetap fokus, namun hampir mustahil untuk mewujudkannya pada tahun mendatang. Kondisi ini, menurutnya, yang menjadi kegelisahan publik tentang masa depan perhatian pemerintah terhadap nasib mereka.
Pertarungan politik dalam pemilukada tak kalah seru. Tahun 2013 akan ada sejumlah pemilihan kepala daerah seperti di Jawa Barat yang baru saja selesai, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Pengerahan dan persaingan dukungan serta ketidakpuasan atas hasil pemilihan bakal memunculkan gesekan dan konflik. Novriantoni Kahar dari LSI melihat tahun 2013 akan menjadi tahun pemanasan. Kasus-kasus yang sebelumnya tersembunyi akan mulai tersingkap. Begitu juga progres penegakan hukum, terutama yang tengah dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi, akan menimpa sejumlah elite partai. Sejumlah parpol yang awalnya solid, bisa jadi juga akan pecah. Dia juga melihat perkembangan dari verifi kasi parpol peserta Pemilu 2014 akan menyisakan protes dan kegaduhan.
Sementara itu, pengamat politik UGM, Ari Dwipayana, memprediksi pada tahun 2013 akan menjadi tahun yang dibanjiri program-program populis. Sifat program itu kebanyakan akan langsung disalurkan ke masyarakat. Hal itu dikarenakan menteri-menteri, khususnya yang berasal dari partai, berpandangan hal itu efektif untuk menjaring dukungan di tahun 2014. Selain itu, lanjut Ari, harus diwaspadai ke depan adalah pola-pola perburuan rente untuk penyiapan dana politik. Caranya tidak selalu dari APBN yang belakangan ini terus disorot, akan tetapi juga dapat melalui kebijakan renegosiasi kontrak-kontrak karya dan lainnya.
Pengamat politik Maswadi Rauf mengatakan benih konflik dalam tubuh partai, terutama terkait dengan penentuan calon presiden, akan semakin berkembang menjadi kegaduhan politik pada 2013.
Dengan demikian, saya akan memperkirakan bahwa sejak tulisan ini dibuat dan dibaca, kita akan melihat dan membaca berita tentang pertarungan politik menjelang Pemilu tahun 2014 mendatang, dari praktek dagang sapi sampai pada upaya serangan fajar, dan tak kalah menariknya bahwa mereka akan memandang antar sesama partai politik menjadi musuh dan pesaing, sehingga perang politik akan semakin dahsyat dan semakin seru.
Namun, harapan saya bagaimanapun kondisi yang terjadi nantinya, kepentingan masyarakat dan negara harus selalu dikedepankan, tidak boleh ikut-ikutan membuat suasana semkin gaduh dan membingungkan masyarakat. Situasi harus dibangun dengan kerja-kerja politik yang riil yang dapat langsung dirasakan masyarakat dan membuat masyarakat semakin cerdas dalam menilai permasalahan politik, sehingga pastisipasi masyarakat akan meningkat terhadap aktivitas dan pesta demokrasi nantinya. Dan tentunya tingkat partisipasi itu adalah hasil dari pencerahan atas pendidikan politik yang cerdas dan modern yang hakekatnya bahwa politik akan membawa perubahan yang signifikan terhadap pencapaian cita-cita bangsa sebagaimana yang telah termakhtub di Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.
Diolah Penulis dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar